Kearifan lokal untuk keseimbangan ekologis
Oleh; Muhammad Najib Sagala
Ketua Forum Mahasiswa Aceh Surakarta
Indonesia adalah "negeri bencana". Itulah ungkapan yang paling tepat untuk menggambarkan kondisi kita saat ini. Betapa tidak! Begitu kita menginjakkan kaki di tahun 2009, dengan segera kita ditimpa serangkaian tragedi bencana alam, mulai dari tenggelamnya kapal laut, gempa di Papua bumi, banjir saat ini mendarat di kota besar hingga pedesaan pelosok Indonesia.
Tidak dapat dipungkiri bahwa timbulnya bencana selalu diikuti serangkaian pertanyaan baik filosofis-kosmologis maupun teologis. Pemikiran fiosofis-kosmologis berusaha untuk mengaitkan berbagai fenomena alam dunia dengan "amarah para dewa" sebagai akibat dari ketidakseimbangan dalam tatanan kosmos.
Mengingat bahwa setiap bencana alam selalu dipahami dan dijelaskan dalam kerangka berpikir semacam ini, maka tertutup kemungkinan bagi manusia untuk melihat bencana dari perspektif lain. Sementara itu, di pihak lainnya secara teologis kekristenan lebih banyak melihatnya dari persoalan penyelenggaraan kekuasaan Ilahi yang tak terbatas (teodice), yang dalam teologi Islam disebut "takdir atau keputusan ilahi berdasarkan kemahakuasaanNya" atau "cobaan dari Allah" dan oleh karenanya harus diterima dengan penuh keikhlasan serta kepasrahan hati.
Sementara itu, Hinduisme memahami bencana sebagai bagian dari proses menjadi tanpa akhir (samsara); Budhisme memahaminya sebagai dukkha ,"bagian dari lingkaran kehidupan manusia: penderitaan, kehendak, perbuatan, akibat, yang dikenal sebagai "Empat Kebenaran Agung" yang merupakan struktur dasar dari penderitaan umat manusia.
Dan supaya manusia dilepaskan dari penderitaan, maka ia harus dilepaskan dari kehendak yang akarnya terletak dalam eksistensi manusia. Masalahnya terletak di sini: bahwa paradigma berpikir serta keyakinan semacam ini secara umum menempati posisi yang sentral dalam komunitas sosial maupun agama-posisi yang dilematis sekaligus mempengaruhi sikap dan perilaku terhadap bencana.
Sebab, bencana alam merupakan keluaran dari interaksi antara bahaya alam dengan kerentanan suatu kawasan atau wilayah. Kerentanan suatu wilayah dibentuk kondisi fisik atau lingkungan, sosial, ekonomi, politik, kelembagaan, dan sistem serta praktik yang tidak memerhatikan prinsip keberlanjutan di wilayah tersebut, yang umumnya karena kegiatan manusia.
Selain kerentanan, faktor lain yang berpengaruh terhadap bencana adalah kapasitas atau ketahanan. Faktor ini merupakan aspek positif dari situasi yang ada, yang jika dimobilisasi dapat mengurangi kerentanan dan mengurangi risiko wilayah terhadap bencana. Tak bisa tepat
Bencana alam merupakan peristiwa yang tidak dapat diprediksi secara tepat kapan akan terjadi, di mana, dan berapa lama. Namun, tanda-tanda bencana dapat dilihat dan dirasakan, terutama jika menggunakan alat, pengamatan, atau evaluasi ilmiah terhadap kawasan tertentu. Salah satu hal yang penting agar terhindar dari bencana alam adalah dengan menjaga kualitas lingkungan hidup
Kearifan lokal ekologis
Kearifan lokal dapat diartikan sebagai perilaku bijak yang selalu menggunakan akal budi, pengalaman, dan pengetahuan yang dimiliki masyarakat dalam suatu wilayah geografis tertentu. Dalam kearifan lokal ada karya atau tindakan manusia yang sifatnya menyejarah (menjadi sejarah) yang masih diwarisi masyarakat setempat.
Perilaku bijak ini pada umumnya adalah tindakan, kebiasaan, atau tradisi, dan cara-cara masyarakat setempat yang menuntun untuk hidup tenteram, damai dan sejahtera. Memahami kearifan lokal dapat dilakukan melalui pendekatan: struktural, kultural dan fungsional.
Menurut perspektif struktural, kearifan lokal dapat dipahami dari keunikan struktur sosial yang berkembang di lingkungan masyarakat, yang dapat menjelaskan tentang institusi atau organisasi sosial serta kelompok sosial yang ada. Menurut perspektif kultural, kearifan lokal adalah berbagai nilai yang diciptakan, dikembangkan, dan dipertahankan masyarakat yang menjadi pedoman hidup mereka.
Termasuk berbagai mekanisme dan cara untuk bersikap, bertingkah laku, dan bertindak yang dituangkan dalam suatu tatanan sosial. Pelajaran yang barangkali bisa kita petik ialah, alam yang semula bersahabat kini bersifat destruktif bahkan mengancam kelangsungan hidup kita dan generasi kita ke depan.
Berbeda dengan murka perorangan, yang amat subjektif, emosional dalam wujud kalap (gelap mata) mendadak singkat (temporary insane), murka alam berproses dalam skala waktu panjang dan sistemik. Murka alam selalu disertai sinyal peringatan. Bencana alam yang menimpa tanah air sekarang ialah panen bencana yang dituai anak bangsa setelah menanam benih pengrusakan ekosistem alam selama 30-an tahun.
“Telah timbul kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS al-Ruum/30: 41).
Dalil teologis ini tampaknya mulai harus diamini banyak orang. Manusia Indonesia yang mengaku beragama, kelihatannya masih jauh dari nilai-nilai yang diusung semua agama. Setiap tahun sejumlah besar hutan masih saja dimusnahkan. Sumber-sumber kekayaan alam dimanfaatkan secara tidak adil; berputar hanya pada segelintir orang.
Sebagian manusia “serakah” menikmati manfaat kekayaan alam sementara sebagian lain masih saja berada dalam kemiskinan dan kelaparan. Sebuah kenyataan pahit dan memprihatinkan. Akhirnya, murka alam boleh jadi merupakan bahasa alam untuk menegur umat manusia yang selalu muncul sifat destruktifnya pada alam.
Saatnya semua itu kita sikapi secara arif dan bijaksana dan ekologis. Ini jauh lebih penting ketimbang kita menampilkan atribut keagamaan tertentu yang dipahami secara “bar-bar”, tapi pemahaman keagamaan kita sendiri masih setinggi lutut. Dalam pandangan eco-teologi, alam yang kita tempati ini merupakan titipan Tuhan yang harus kita jaga kelestariannya hingga ke anak cucu.
Senin, 06 April 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar