Senin, 13 April 2009

Mengembalikan Pesona Agama Islam Oleh;

Muhammad Najib Sagala
Mahasiswa FAI/Jurusan Syari’ah UMS

RESENSI
Judul :Pudarnya Pesona Ilmu Agama
Penulis :Dr.Muhyar Fanani
Penerbit :Pustaka Pelajar Yogyakarta
Tahun :Oktober 2007
Tebal :xxxvi +190

Sudah sekian lama, paradigma keilmuan Islam menjauhi praksis masyarakat. Teori-teorinya pun selalu merujuk pada era masa lalu yang jarang dikaitkan dengan problematika sosial kekinian dan kontekstual. Akibatnya mudah ditebak setiap kali ilmu keislaman dibicarakan, maka saat itu pula problem irrelevansi muncul. Sebagai contoh adalah teori-teori yang ada dalam ilmu kalam. Dalam ilmu kalam dijumpai berbagai teori seperti teori kekuasaan dan mutlak Tuhan.
Persoalan utama yang menjadi perdebatan para teolog dalam wilayah ini adalah seberapa besarkah pengaruh kekuasaan dan kehendak Tuhan terhadap perbuatan dan kehendak manusia. Dengan kata lain, seberapa besarkah manusia memiliki kebebasan berkehendak dan berbuat. Persoalan ini telah melahirkan dua paradigma, yakni paradigma tekstual dan paradigma rasional. Paradigma tekstual condong pada kutub besarnya dominasi kekuasaan dan kehendak Tuhan pada manusia, sehingga ibarat wayang yang hanya manut pada dhalang. Paradigma ini diwakili oleh kelompok Asy’ariyah dan Maturidiyyah aliran Bukhara. Sementara rasional berpandangan bahwa manusia bebas menentukan nasibnya sendiri. Ini diwakili oleh kelompok Mu’tazilah dan Maturridiyah aliran ini Samarqand.
Akibat dua paradigma ini, kemudian merekonstruksi benteng-benteng kecil yang berbeda pandangan sehingga menjalar kepada pemalasan berpikir umat Islam. Sementara benteng-benteng kecil bisa dibangun sesuai selera. Dengan demikian, bila seseorang ingin mengembangkan ilmu ia belum mengenali paradigma ilmu itu, maka ia bagaikan orang yang akan merenovasi rumah, sementara ia belum bisa membedakan mana fondasi rumah yang harus dipertahankan dan mana tembok yang akan direnovasi. Akibatnya ia hanya menghabiskan waktu dan banyak memakan biaya.
Padahal mengenali paradigma suatu ilmu adalah syarat mutlak untuk bisa mengembangkan suatu ilmu. Ini dikarenakan paradigma adalah fondasi dan tiang penyangga ilmu. Dalam kajian buku ini Muhyar Fayani mengatakan. Akibat mentiraninya ilmu ilmiah terhadap tiga bidang ilmu agama, yakni ilmu kalam, ilmu tasawuf, dan filsafat Islam yang membuat memudarnya pesona ilmu Agama.
Pertama, dalam ilmu kalam, paradigma yang pertama kali muncul adalah paradigma tekstualisme yang dimotori oleh ahl an-naqli yang disebut juga ahl al-hadits atau as-salafiyyun. Paradigma ini bersandar kuat pada wahyu dalam arti pernyataan literal alqur’an dalam persoalan-persoalan keyakinan seperti QS.al-baqarah (02):186 tentang posisi Tuhan dan QS.al-baqarah (02):97-98 tentang kesalahan memusuhi malaikat jibril serta larangan alqur’an untuk berdebat yang berkepanjangan sehingga menimbulkan perpecahan, seperti termaktub dalam al-qur’an QS.al-Anfal (08):46, QS.al-Maidah (05):15, QS.al-hajj (22):69-9, QS.al-ankabut (29):46. paradigma ini menghindarkankan diri dari penggunaan argumentasi apa pun­--termasuk agumentasi kaum teolog dan filsuf selain yang difirmankan Allah dalam alqur’an dan yang dijelaskan Nabi dalam hadits (hal:49).
Kedua, ilmu tasawuf merupakan ilmu yang asli dihasilkan oleh umat islam. Ia bukanlah ilmu yang berasal dari luar tradisi islam. Benih-benih ilmu ini telah muncul sejak generasi pertama. Ibn Khaldun mengatakan: “Ilmu tasawuf termasuk salah satu ilmu agama yang baru dalam agama (Islam). Cikal bakalnya, bermula dari generasi pertama umat (Islam), baik dari kalangan sahabat, tabi’in, dan generasi setelahnya. Ia adalah jalan kebenaran dan petunjuk. Sementara asal-usulnya adalah pemusatan diri dalam ibadah, penghadapan diri sepenuhnya kepada Allah, penghindaran diri dari hiasan dan pesona dunia, penjauhan diri dari kelezatan, harta, dan pangkat yang dikejar-kejar orang banyak, dan pemisahan diri dari orang lain untuk bersendiri dan beribadah. Hal seperti ini biasa di kalangan sahabat dan generasi sesudahnya.(hal; 87-91)
Ketiga; akibat yang nyata dari diskontinuitas atu adalah sulitnya untuk menangkap eskalasi perkembangan yang berkelanjutan dalam filsafat islam. Filsafat islam berpijak pada konsepsi spiritual tentang manusia dan alam, sementara filsafat barat bersifat sekuler dan mengesampingkan wawasan ketuhanan. Perbedaan dasar pijak ini akhirnya menimbulkan akibat yang berbeda. Filsafat barat telah melahirkan sebuah peradaban yang cenderung pada saintisme dan mekanisasi yang pada gilirannya menyingkirkan aspek rohani, akibatnya manusia berubah menjadi robot yang tidak berjiwa.(hal;113-119)
Dalam pengantarnya, buku ini harus disadari, teori-teori ilmu keislaman banyak yang telah usang (obsolute) dan perlu diperbaharui lagi sesuai dengan konteks zaman sekarang. Namun, rupanya pengembangan teori berdasarkan paradigma lama akan sulit dilakukan karena anomali yang menyelimuti paradigma lama itu sendiri. Munculnya teori baru hanya mungkin dilakukan bila kita menggunakan paradigma baru. inilah yang maksudkan oleh Hassan hanafi ketika ia mengatakan bahwa kita tidak perlu memikirkan Tuhan yang ada di langit .Ia tidak butuh pemikiran kita, sebaliknya di pergunakan untuk menyelesaikan problem-probem kemanusian kita yang masih banyak dan belum terselesaikan. Hassan Hanafi mengingingkan adanya paradigma baru kalam yang jelas jelas lebih memihak pada nasib manusia, bukan nasib Tuhan.
Dengan kata lain teori ilmu dulu perlu direorientasikan ulang, bukan semata-mata untuk Allah tapi untuk pencerahan manusia. Sudah semestinya sebagaimana telah dilakukan dalam ajaran islam dalam membela kemanusiaan. Buku ini sedikit radikal dalam penjelasannya. Sayangnya, buku ini belum memberikan strategi baru untuk membuka corak dan cakrawala agama islam untuk menanggulangi masalah kemanusiaan kontemporer. Maknanya, kita bukan hanya mengerti masalah teori-teori agama islam tapi juga problem realitas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar