Senin, 13 April 2009

MEMBONGKAR RAHASIA PSIKOLOGI CIA

Oleh;
Muhammad Najib Sagala
Mahasiswa FAI/Syari’ah
RESENSI
Judul : Psikologi Intelijen, Rahasia CIA dalam Proses Analisis Intelijen
Penulis : Richards J Hever JR
Penerbit : Prisma Sophie, Yogyakarta
Tahun : Juni 2008
Tebal : 312 Halaman

Sejak dekade 70-an, AS memang telah merekayasa opini umum internasional dan regional (di Amerika) untuk melawan terorisme, seperti yang kita lihat, dan melawan orang yang dicap sebagai ancaman kepentingan masyarakat global.
Amerika telah mengeksplotasi aksi-aksi yang dilakukan untuk merealisasikan target-target sipil, baik yang dilakukan oleh berbagai gerakan politik atau gerakan militer yang tidak mempunyai hubungan dengan Amerika ataupun tidak mempunyai hubungan dengan Amerika (CIA).
Banyak dokumen yang menerangkan bahwa aksi-aksi yang dicap sebagai aksi terorisme sebenarnya didalangi intel-intel CIA sendiri. Seperti pembajakan pesawat TWA di Beirut pada awal tahun 80-an lalu. Amerika telah mengkesploitasi peristiwa peledakan gedung al-Khubar milik Amerika di Saudi, dengan memaksakan rekomendasi yang berkaitan dengan upaya memerangi terorisme. Pada Konforensi Negara-Negara G-7 yang diselenggarakan di Prancis tahun 1996.
Namun, sangat mengejutkan kita Ricards berhasil menganalisis intelijen (CIA) dengan proses nalar memory daya ingat yang sederhana dan komplit. Pertanyaannya, apa yang mendorong Ricards berani menulis buku demikian vulgar. Apalagi, menggunakan perspektif psikologis dan kesadaran.
Menurut penulis, analsis intelijen merupakan embrio proses mental, dengan menggunakan humanisasi dan kesadaran seorang CIA yang tulus. Sebab jika tidak menggunkan daya humanisasi dan kesadaran pasti memberikan keputusan-keputusan salah. Dan menambahkan munculnya provokasi masyarakat internasional.


Masalahnya, selama ini CIA (Central Intelejence Agency) banyak memberikan informasi yang tidak sesuai dengan fakta riel. Apakah ini ada kerusakan didalam dunia CIA terutama perspektif psikologis, hingga terjadinya penyerapan arus informasi yang salah kaprah dan mencengangkan masyarakat internasional.
Bagi penulis, analisis intelijen pada dasarnya merupakan sebuah proses mental, tetapi memahami proses ini selalu diganggu dengan kurangnya kesadaran tentang apa yang terjadi dalam pikiran manusia. Banyak fungsi yang dihubungkan persepsi, memori, dan pemrosesan informasi yang dilakukan sebelumnya dan secara independent terhadap berbagai arah kesadaran adalah hasil pemikiran, bukan proses pemikiran (halaman: 41).
Memori yang terkomendasikan, dalam sebuah penelitian, terbentuk dalam raga system, yakni penyimpanan informasi sensoris (SIS: sensori informasi storage),memori jangka pendek (STM: short term memory), dan memori jangka panjang (LTM: long term memory). Masing-masing proses memori berbenda dalam hal fungsi, pembentukan informasi yang dilakukan, panjang waktu informasi yang dipertahankan, dan jumlah kapasitas penangan informasi (halaman: 66).
Dorong Mental
Mentalitas intelijen bisa membuka cakrawala memori yang mengesankan. Mentalitas psikologis juga akan membantu menggerakkan analisis yang tajam dan akurat. Sinyal mental inilah yang mengambil peran untuk menyerap informasi dalan dunia intelijen CIA.
Sebab psikologis yang normal dan sehat membentuk pola pikir intelijen yang dikedepankan, karena akan menelurkan gagasan-gagasan brilian untuk menjaga iklim organisasi CIA. Iklim organisasi memainkan peran krusial dalam menentukan apakah gagasan-gagasan baru itu bergelumbung di tataran atas atau tenggelam (halaman: 136)
Masalahnya, sejak PD ke-II, AS telah menjatuhkan bom atas 23 negara di dunia, membunuh jutaan penduduk sipil tak berdaya, serta meluluhlantahkan kawasan peperangan -sebagaimana yang terjadi dalam PD ke-II, Perang Korea, Perang Vietnam, dan Perang Teluk.
AS juga bertanggung jawab atas usaha kudeta lebih dari 20 kali di seluruh dunia dan memasang penguasa-penguasa boneka yang pro AS. CIA, dalam hal ini adalah pihak yang bertanggung jawab dalam banyak pembunuhan politik guna meraih tujuan-tujuan tersebut.
Di samping itu, AS melakukan imperialisme dalam bidang ekonomi, politik dan budaya yang nyaris tak terbendung oleh negara-negara lain. Semua itu dalam rangka menjaga kepentingan-kepentingan AS dan menjaga eksistensinya di seluruh dunia.
Hal ini penulis khawatir jika sejak perang dunia II yang dilakukan AS data dari CIA. Semoga saja tidak pernah terjadi, semuanya menentukan kondisi psikologi jika sehat maka informasi yang ada juga benar.
Sekali lagi, penulis melihat telah adanya politik global yang di aktori CIA dalam memainkan memori masa lalau. Hingga saat ini penulis buku setebal 312 halaman ini masih mengatakan sulit, menguak derap derup sepak terjang CIA. Tapi hanya misteri kejujuran yang belum terbuka.
Hemat penulis, berharap agar CIA benar-benar memiliki psikilogis yang sehat agar terjadinya, arus informasi yang akurat dan jujur. Singkat, CIA harus memiliki integritas psikologis normal dan jiwa humanisasi agar tidak terjadinya, serapan informasi salah. Dan tidak akan ada korban Negara lain hanya karena informasi salah dan tidak akurat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar