Jika kita bertanya, siapa yang harus bertanggung jawab dengan arus politik bangsa seperti ini, maka satu jawabannya adalah gerakan mahasiswa. Kerja besar gerakan mahasiswa tahun 1998, ibarat letupan gunung yang lama tidak meledak.
Pasca ledakan itu, gerakan mahasiswa pun tidak punya blue print arah Indonesia di masa depan, sehingga terkesan tidak by desgin. Sistem dan struktur politik terus berkembang, gerakan mahasiswa seperti ketingggalan kereta perubahan bangsa.
Gerakan mahasiswa seolah kehilangan peran, ketidakmampuan gerakan mahasiswa mengambil peran itulah yang menjadi tikungan tajam gerakan mahasiswa dalam masa kekinian. Membaca arah masa depan dan mengambil peran dalam pola perpolitikan nasional, gerakan mahasiswa tidak mampu secara komprehensif dan sistematis membaca semua itu.
Romantisme masa lalu masih sering mewarnai gerakan mahasiswa. Khawatirnya, romantisme lahir dari ketidakmampuan gerakan mahasiswa keluar dari kekagetan memahami realitas kekiniaan. Gerakan mahasiswa, harus keluar dari kungkungan romantisme itu agar mampu memainkan peran strategisnya bukan hanya bermain pada pendekatan taktis.
Dalam kurun waktu beberapa pekan lagi pemilu 2009 akan dihelat, hiruk pikuk partai politik dan para calon anggota legislatif sangat terlihat mewarnai perpolitikan Indonesia. Tetapi gerakan mahasiswa seolah bungkam beribu bahasa. Hingga kini, gerakan mahasiswa tidak memiliki gerakan-gerakan strategis jelang pemilu.
Pada sisi lain gerakan mahasiswa sangat memahami efek dari pemilu terhadap masa depan bangsa. Kegundahan gerakan mahasiswa akan nasib rakyat Indonesia, setidaknya jadi pemicu yang sangat kuat untuk mengambil peran strategis itu, pertaruhan nasib rakyatlah yang menjadi poin penting pada pemilu.
Banyak peran strategis gerakan mahasiswa yang dapat dilakukan, terkhusus pemilu 2009. Narasi besarnya, pemilu 2009 tidak hanya dijadikan formalitas demokrasi belaka oleh elit politik yang hanya menghasilkan warna-warna lama, dengan bungkusan yang baru.
Gerakan mahasiswa, harus mendorong dan menjaga kualitas demokrasi agar tidak menjadi barang rongsokan. Menggelindingnya bola pemilu, seharusnya dapat ditangkap dengan pola dari gerakan mahasiswa yang mampu mengarahkan demokrasi ini, pada demokrasi yang mencerdaskan rakyat dan anak bangsa.
Dengan demikian mahasiswa akan bisa memberikan demarkasi yang jelas tentang segi-segi standard kemampuan dan kecakapan, attitude serta performance terlebih-lebih mahasiswa juga bisa menjadi tempat untuk menelusuri prinsip autentitas hidup pemimpin yang akan menjadi wakil rakyat.
Bukankah yang demikian itu justru memudahkan masyarakat untuk menentukan siapa yang akan dipilih. Bukankah yang demikian itu pula merupakan salah satu jalan elementer terbaik bagi Parpol untuk menjadi lebih baik untuk memposisikan diri, merekonstruksi, dan merevitalisasi termasuk mengembangkan sumber daya organisasi untuk menjadfi konstruktif bagi masyarakat.
Kamis, 02 April 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar